Friday, November 09, 2007

Pendaki Semeru Tersesat di Jalan Menuju Surga




MASIH ingat tragedi meninggalnya aktivis mahasiswa Soe Hok Gie di ketinggian 3.676 Puncak Mahameru pada 16 Desember 1969 silam? Turut pula tewas Idham Lubis, keduanya anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Pada bulan yang sama tahun ini, di mana para pendaki menuai badai, seorang pencinta alam "lepasan" warga Manggarai RT 10 RW 04 Jakarta Selatan, dinyatakan hilang. Daris menjadi korban ke-50 dari keganasan alam Gunung Semeru.
Di Arcopodo, sekitar 1,5 kilometer sebelum menuju Puncak Mahameru, ada sekitar 12 prasasti untuk memperingati para pendaki yang tewas. Mereka seakan telah menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Menaklukkan Semeru ibarat menaklukkan rasa takut yang bersemayam dalam diri seorang pendaki. Maka ketika tiba di Puncak Mahameru, surga itu seperti dalam genggaman, di mana awan-awan bisa direngkuh. Percikan batuan vulkanik dari Kawah Jonggring Saloka, seperti kewajiban lain dari perut Semeru.
Salah satu prasasti yang dipancang para pendaki dikhususkan buat Soe Hok Gie dan Idham Lubis. Hok Gie ditemukan tewas di Puncak Mahameru. Sampai kini penyebab kamatiannya tetap misteri, seperti teka-teki yang saban waktu dimainkan Semeru.
Soe Hok Gie mejadi korban pertama yang tercatat dalam sejarah pendakian Semeru, seperti yang tersimpan di Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dalam daftar kecelakaan pendakian itu tercatat 50 orang yang pernah tertimpa musibah. Dari jumlah itu, 24 orang dinyatakan tewas, dua orang hilang, 10 orang luka-luka, dan empat orang selamat.
Padahal Semeru telah dijejaki oleh seorang warga Belanda, Clignet, pada tahun 1838 melalui lereng baratdaya di Widodaren. Tahun 1911 Semeru juga pernah didaki oleh Van Gogh dan Heim dari lereng utara. Selanjutnya, ahli botani Belanda lainnya, Junhuhn, tahun 1945 mendaki Semeru dari lereng utara lewat Gunung Ayeg-ayeg, Gunung Ider-ider, dan Gunung Kepolo. Sejak tahun 1945, jalur pendakian Semeru selalu melalui lereng utara lewat Ranupane, Ranu Kumbolo, dan Arcopodo. Sejarah itu tidak mencatatkan kecelakaan-kecelakaan yang pernah terjadi saat-saat pendakian Semeru itu.
***
MALAM hari, jika berada tepat di bawah lereng, Semeru adalah misteri. Ia seperti raksasa tinggi dan gelap. Para pendaki sering menyebut lereng Semeru sebagai "jalan menuju surga". Daerah ini terdiri dari alur berpasir yang terbentuk dari bongkahan lahar beku. Dengan kemiringan antara 60-80 derajat serta kontur tanah yang berpasir, lereng itu hanya baik didaki pada malam hari.
Maka, para pendaki biasanya berangkat dari perkemahan terakhir di Kalimati sekitar pukul 01.00. Para pendaki biasanya mencapai Puncak Mahameru sekitar tiga sampai empat jam kemudian.
Pimpinan SAR Malang Andy Susetyo mengungkapkan, umumnya para pendaki justru tersesat "setelah turun dari tangga surga". "Umumnya, turun memang lebih mudah daripada naik. Karena itu, banyak pendaki yang meremehkan lereng-lereng Semeru saat turun," katanya.
Padahal, katanya, sebagian besar pendaki ditemukan tertimpa musibah di lereng-lereng antara puncak dan daerah Arcopodo. Jaraknya hanya sekitar 1,5 kilometer, "Tetapi harus menuruni tebing sekitar 70 derajat," ujar Susetyo. Jika sedikit tersesat, maka di kanan-kiri tebing curam menghadang. Seorang pendaki yang menyadari dirinya tersesat, secara psikologis akan terpukul karena melihat punggung jalan konvensional sudah tinggi sekali. "Mereka umumnya tak punya cukup tenaga untuk naik kembali, maka memilih jalan terus. Padahal, tak ada jalan keluar. Maka banyak korban kita temukan di lereng-lereng itu," kata Susetyo.
Diperkirakan, Daris juga tersesat di lereng ini. Menurut cerita rekan satu tim pendaki, Arif, saat ia buang air kecil di Puncak Mahameru pada 20 Desember 2001, Daris telah mendahuluinya turun. Arif mengatakan, sekitar 10 menit ia tak bisa lagi melihat sosok Daris. Hilangnya Daris baru dilaporkan pada 21 Desember 2001 di perhentian Ranupane.
Kepala Balai TNBTS Herry Subagiadi menduga, faktor ketersesatan para pendaki selain karena cuaca, juga kemungkinan disebabkan oleh hilangnya rambu-rambu. "Setiap tahun dua kali kami ganti rambu, tetapi hilang lagi," katanya.
Dalam tahun 2001, sejak Januari sampai November 2001 lereng Semeru tak kurang didaki oleh 8.553 orang. Dan sejak empat tahun terakhir, umumnya para pendaki datang dengan tujuan berekreasi. "Banyak yang tidak memahami tata cara pendakian dan karakteristik Gunung Semeru," katanya.
Oleh karena itulah, pihaknya telah merencanakan untuk mewajibkan penggunaan pemandu, jika ingin mendaki Semeru. "Saya kira cara ini cukup aman untuk meminimalkan kecelakaan karena tersesat di Semeru," kata Herry.
Puncak gunung tertinggi di Jawa itu ibarat surga lain. Celakanya, menurut pengakuan para pendaki, umumnya mereka yang tiba-tiba melamun di Puncak Mahameru, cenderung tersesat saat menuruni lereng. Panorama dari sini, di ketinggian ini, sungguh luar biasa. Beberapa puncak gunung di Jawa berderet dan kita berada di atasnya. Sungguh sebuah sihir: bahwa kita telah menaklukkan dunia. Dalam kondisi eforia, seringkali pertimbangan rasional terlupakan.
Barangkali Daris kini sedang berada dalam puncak kesendiriannya. Di atasnya berdiri menjulang raksasa hitam yang baru saja ia taklukkan. Di lereng-lereng dengan kecuraman sampai 100 derajat itu, mungkin Daris terus berhitung akan tiba atau tidak. Ia sedang menghadapi teka-teki Semeru yang sepenuh-penuhnya masih misteri. (Putu Fajar Arcana)

1 comment:

Amel Riva said...

Keren :')